Kig ha farz dengan far soba dan lipig
Kig ha farz berasal dari Pays de Léon di Finistère bagian utara, Bretagne. Ciri yang membedakannya bukan sekadar daging dan sayuran dalam kaldu. Adonan berbasis tepung soba dimasukkan ke kantong kain khusus yang aman untuk kontak pangan, diikat, lalu dimasak terendam di panci yang sama sampai menjadi far yang padat dan dapat diremukkan atau diiris. Unsur inilah yang membedakannya dari pot-au-feu biasa dengan dumpling.
Daging yang digunakan adalah sengkel sapi bertulang dan perut babi semi-asin tanpa tulang. Potongan besar memberi waktu bagi kaldu untuk berkembang selama perebusan perlahan, sementara wortel, lobak, daun bawang prei, dan kol Savoy baru dimasukkan untuk 50 menit terakhir agar tetap empuk tetapi tidak hancur. Daging, sayuran, dan far harus dinilai kematangannya secara terpisah sebelum disajikan.
Far dibuat dari tepung soba, telur, susu, dan mentega asin. Kantong berukuran sekitar 43 × 19 cm diisi hanya sekitar 85% agar ada ruang mengembang, lalu diikat sangat rapat. Setelah dua jam terendam dalam kaldu yang hanya mendidih perlahan, kantong harus terasa padat merata dan tidak menyisakan bagian tengah cair. Lipig dibuat terpisah dari mentega asin, bawang merah, dan 150 ml kaldu yang diambil dari panci; hasilnya harus mengilap dan mudah disendok, bukan saus yang dikentalkan dengan tepung.


