Lebanon mencakup 10,452 satuan kilometer persegi di pesisir timur Laut Mediterania di Levant, Asia Barat, sebuah negara sempit yang berbatasan dengan Suriah di utara dan timur, Israel di selatan, serta memiliki garis pantai sekitar 225 kilometer di barat. Beirut, ibu kotanya, terletak di pesisir tengah yang padat terurbanisasi. Di belakang dataran pesisir yang terputus-putus, daratan naik tajam menuju Pegunungan Lebanon, dengan puncak tertinggi Qurnat as Sawda’ mencapai sekitar 3,088 meter. Di sebelah timur punggungan itu terbentang Lembah Beqaa yang panjang dan subur, bagian dari sistem retakan Levant yang lebih besar, lalu Pegunungan Anti-Lebanon yang membentuk sebagian besar perbatasan dengan Suriah dan secara regional mencapai ketinggian tertinggi di sekitar Gunung Hermon. Urutan yang padat antara laut, pegunungan, cekungan, dan dataran tinggi timur ini menghasilkan perbedaan tajam dalam iklim, vegetasi, pertanian, dan pola permukiman.
Lebanon memiliki iklim Mediterania yang sangat dipengaruhi oleh ketinggian dan efek bayangan hujan, sehingga kondisi di pesisir, Pegunungan Lebanon, dan pedalaman berbeda secara nyata. Sebagian besar curah hujan turun antara akhir musim gugur dan awal musim semi; wilayah pesisir umumnya menerima sekitar 700–1,000 milimeter per tahun, sedangkan Beqaa jauh lebih kering, sering sekitar 200–450 milimeter di bagian yang paling kering. Lereng barat pegunungan menahan udara lembap dari Mediterania dan menerima hujan yang lebih deras serta salju musim dingin yang cukup banyak, sementara sisi timur lebih kontinental, dengan musim dingin lebih dingin, siang musim panas lebih panas, dan curah hujan lebih rendah. Musim panas yang kering membuat air tanah, mata air, waduk, dan lelehan salju penting bagi pertanian dan pasokan perkotaan. Penilaian iklim nasional terbaru menekankan kenaikan suhu, curah hujan yang makin tidak menentu, dan tekanan kekeringan yang lebih besar, dengan dampak pada hasil panen, risiko kebakaran hutan, dan ketersediaan air. Pesisir juga menghadapi erosi, pencemaran laut, dan peningkatan paparan terhadap kenaikan muka laut, sementara badai musim dingin yang intens dapat memicu banjir bandang di daerah aliran yang sangat terurbanisasi.
Perbedaan iklim tersebut menopang semak maquis Mediterania, hutan ek dan pinus, sisa hutan cedar dan fir, padang rumput dataran tinggi, lembah sungai, lahan basah, serta ekosistem pesisir dalam wilayah yang sangat kecil. Data World Bank menempatkan luas hutan pada 14.2% dari daratan pada 2023, meskipun definisi yang lebih luas yang memasukkan semak belukar dan lahan berkayu lain menghasilkan angka lebih tinggi. Tegakan cedar bertahan di lanskap pegunungan yang dilindungi seperti Shouf Cedar Nature Reserve, Horsh Ehden, dan Cedars of God dekat Bsharri; yang terakhir merupakan bagian dari properti Warisan Dunia UNESCO bersama Lembah Qadisha. Pertanian terkonsentrasi di Beqaa, Dataran Akkar, dataran rendah pesisir, dan lereng pegunungan berteras; kentang, sayuran, anggur, apel, zaitun, dan jeruk merupakan tanaman khas. Sungai Litani, yang seluruh alirannya berada di Lebanon, penting bagi irigasi dan tenaga air serta mengisi Danau Qaraoun, sedangkan Orontes dan Hasbani menghubungkan Lebanon secara hidrologis dengan cekungan regional yang lebih luas. Perluasan kota, penambangan batu, kebakaran hutan, penggembalaan berlebih, dan pengelolaan lahan yang terfragmentasi terus menekan habitat serta tanah pertanian.
Permukiman manusia di wilayah ini berakar jauh ke masa prasejarah, dan Byblos menyimpan bukti hunian sejak periode Neolitikum. Pada Zaman Perunggu dan Besi, pesisir menjadi kawasan inti peradaban kota Fenisia, yang tersusun atas negara-kota maritim termasuk Byblos, Sidon, dan Tyre, bukan sebuah kerajaan “Lebanon” terpadu dalam pengertian modern. Para pedagangnya menghubungkan Levant dengan Siprus, Mesir, Afrika Utara, dan Mediterania barat, sementara sistem tulisan Fenisia memainkan peran penting dalam sejarah aksara alfabet. Wilayah ini kemudian berada di bawah kekuasaan Asyur, Babilonia, Persia, Helenistik, dan Romawi; Baalbek, yang dikenal sebagai Heliopolis pada masa Helenistik dan Romawi, berkembang menjadi pusat keagamaan utama dengan kuil-kuil monumental yang tetap menjadi salah satu situs arkeologi terpenting negara ini. Kekristenan menyebar pada masa Romawi dan Bizantium, dan penaklukan Arab-Muslim pada abad ketujuh memasukkan daerah ini ke dalam kekhalifahan-kekhalifahan berikutnya. Perebutan kekuasaan antara Tentara Salib, Ayyubiyah, dan Mamluk kemudian membentuk kembali pesisir dan pedalaman sebelum Kesultanan Utsmaniyah mengambil alih pada 1516, memerintah melalui elite lokal dan susunan administratif yang berubah-ubah.
Di bawah kekuasaan Utsmaniyah, Pegunungan Lebanon mengembangkan struktur politik yang berbeda dari kota-kota pesisir tetangga dan pedalaman Suriah, dengan komunitas Druze dan Maronit menjadi sangat berpengaruh di pegunungan. Kekerasan sektarian pada abad kesembilan belas, termasuk konflik 1860, memicu intervensi internasional dan pembentukan Mutasarrifate Pegunungan Lebanon yang otonom pada 1861. Setelah runtuhnya Utsmaniyah, Prancis memproklamasikan Lebanon Raya pada 1920, menggabungkan Pegunungan Lebanon dengan Beirut, Beqaa, wilayah utara, dan selatan; batas-batas ini pada umumnya membentuk kerangka teritorial republik modern. Konstitusi menyusul pada 1926, dan kemerdekaan diperoleh secara politik pada 1943, dengan pasukan Prancis meninggalkan negara itu pada 1946. Pakta Nasional yang tidak tertulis melembagakan pembagian kekuasaan berdasarkan komunitas agama, tetapi perubahan demografi, pengungsian Palestina, rivalitas regional, dan gerakan bersenjata turut memicu perang saudara 1975–1990, yang melibatkan Suriah, Israel, dan Organisasi Pembebasan Palestina. Perjanjian Taif 1989, menyeimbangkan kembali kewenangan konstitusional dan representasi parlemen. Pasukan Suriah mundur pada 2005; krisis berikutnya mencakup perang Israel–Hezbollah 2006, keruntuhan keuangan 2019, ledakan Pelabuhan Beirut 2020, dan konflik destruktif pada 2023–2024. Pemilihan presiden pada Januari 2025, mengakhiri kekosongan kelembagaan yang berkepanjangan, tetapi stabilisasi politik tetap sangat terkait dengan keamanan dan reformasi ekonomi.
Perekonomian Lebanon tetap dibentuk oleh krisis keuangan yang dimulai pada 2019, ketika model perbankan yang bergantung pada arus masuk modal dan pinjaman publik besar menjadi tidak berkelanjutan. Gagal bayar utang negara pada 2020, depresiasi mata uang yang parah, pembatasan simpanan bank, dan dolarisasi yang meluas secara tajam mengurangi daya beli rumah tangga serta kredit formal. Konflik kemudian menyebabkan PDB riil menyusut 7.1% pada 2024, sehingga penurunan kumulatif sejak 2019, mendekati 40%; World Bank memperkirakan pemulihan 3.5% pada 2025, terutama didorong oleh konsumsi, remitansi, pariwisata, real estat, dan konstruksi. Sektor jasa mendominasi kegiatan ekonomi, sementara manufaktur, pengolahan pangan, pertanian, dan perdagangan menyediakan lapangan kerja serta ekspor yang penting. Remitansi setara dengan sekitar sepertiga PDB pada 2023, menunjukkan besarnya bobot ekonomi diaspora. Perdagangan barang secara struktural sangat bergantung pada impor: pada 2023, ekspor berjumlah sekitar US$4.6 (miliar dibanding impor US$18.1 (miliar, dengan Uni Emirat Arab sebagai pasar ekspor utama dan Tiongkok sebagai sumber impor terbesar. Rekonstruksi, reformasi perbankan, dan pemulihan investasi publik tetap menjadi kendala pembangunan utama.
Lebanon belum melakukan sensus penduduk lengkap sejak 1932, sehingga jumlah penduduk masa kini merupakan estimasi, bukan hasil sensus, dan proporsi penduduk menurut komunitas agama perlu diperlakukan dengan hati-hati. Data World Bank dan PBB menempatkan populasi 2025 pada sekitar 5.85 juta, dengan kira-kira sembilan dari sepuluh penduduk tinggal di kawasan perkotaan. Permukiman sangat terkonsentrasi di sabuk pesisir dan lereng barat Pegunungan Lebanon, terutama di kawasan metropolitan yang menyatu di sekitar Beirut dan pinggirannya; Tripoli menjadi pusat wilayah utara, sementara Sidon dan Tyre merupakan pusat pesisir utama di selatan dan Zahle serta Baalbek adalah kota pedalaman penting. Pola ini mencerminkan sempitnya dataran pesisir, pemusatan lapangan kerja dan layanan, serta keunggulan transportasi koridor Mediterania. Secara administratif, negara ini terbagi menjadi delapan kegubernuran: Beirut, Mount Lebanon, North Lebanon, Akkar, Beqaa, Baalbek-Hermel, South Lebanon, dan Nabatiyeh. Lebanon juga menampung populasi pengungsi yang besar; pemerintah memperkirakan sekitar 1.3 juta warga Suriah pada pertengahan 2025, di samping komunitas Palestina yang telah lama menetap, dengan dampak besar pada perumahan, sekolah, pasar tenaga kerja, dan layanan publik.
Bahasa Arab adalah bahasa resmi Lebanon, sedangkan bahasa Arab Lebanon merupakan ragam tutur sehari-hari yang dominan; bahasa Prancis dan Inggris banyak digunakan dalam pendidikan, bisnis, dan media, sementara bahasa Armenia tetap penting dalam komunitas Armenia. Afiliasi agama memiliki arti kelembagaan karena sistem politik dan status personal mengakui 18 kelompok agama, termasuk Muslim Sunni dan Syiah, Druze, Katolik Maronit, Ortodoks Yunani, Katolik Yunani Melkit, Apostolik Armenia, dan komunitas Kristen lainnya. Persentase sektarian terkini yang dapat diandalkan tidak tersedia karena tidak ada sensus modern yang mencatat penduduk berdasarkan agama. Kehidupan budaya mencerminkan interaksi jaringan intelektual Arab, Mediterania, Utsmaniyah, dan Eropa, bukan satu tradisi komunal tunggal. Beirut berkembang menjadi pusat utama penerbitan Arab, jurnalisme, dan pendidikan tinggi pada abad kesembilan belas dan kedua puluh, terkait dengan institusi seperti American University of Beirut dan Saint Joseph University. Sastra dan musik Lebanon juga beredar luas di dunia Arab dan diaspora, sementara arsitekturnya mencakup bangunan keagamaan abad pertengahan, jaringan kota Utsmaniyah, perencanaan era mandat, hingga rekonstruksi pascaperang.
Transportasi jalan mengangkut sebagian besar penumpang dan barang domestik karena sistem kereta api Lebanon tidak beroperasi secara reguler. Sumbu utama utara–selatan mengikuti pesisir yang padat permukiman melalui Tripoli, Beirut, dan kota-kota selatan, sementara rute melintasi Pegunungan Lebanon menghubungkan ibu kota dengan Zahle, Beqaa, dan perbatasan Suriah, sehingga topografi terus menjadi sumber kemacetan dan biaya konstruksi tinggi. Beirut dan Tripoli adalah pelabuhan komersial utama; Pelabuhan Beirut tetap menjadi gerbang perdagangan nasional meskipun mengalami kehancuran akibat ledakan Agustus 2020 dan masih membutuhkan perbaikan tata kelola serta rekonstruksi. Bandar Udara Internasional Beirut–Rafic Hariri adalah pusat penerbangan internasional utama negara ini. Listrik merupakan kendala infrastruktur yang lebih berat: Électricité du Liban mengoperasikan jaringan publik serta aset pembangkit termal dan tenaga air, tetapi pasokan telah lama tidak andal, sehingga mendorong ketergantungan luas pada generator swasta dan, semakin banyak, sistem surya terdistribusi. Konektivitas digital jauh lebih kuat sebagai perbandingan, dengan data ITU menunjukkan 80.6% individu menggunakan internet pada 2024, meskipun kualitas layanan dan keterjangkauannya berbeda-beda.
Arti penting regional Lebanon lebih berasal dari posisinya di antara Mediterania timur, Suriah, dan kawasan pedalaman Arab yang lebih luas, jaringan diaspora yang besar, serta signifikansi politik perbatasan selatannya dengan Israel daripada dari ukuran wilayahnya. Lebanon adalah anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Liga Arab, sementara Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 dan Pasukan Sementara PBB di Lebanon tetap menjadi unsur utama upaya mengelola keamanan di sepanjang Blue Line; pada 2026 hostilitas baru menegaskan betapa rapuhnya kerangka tersebut. Geografi yang sama yang dahulu menopang perdagangan juga membuat negara ini terpapar perang regional, pergerakan pengungsi, dan gangguan perdagangan darat. Karena itu, pemulihan jangka menengah bergantung pada beberapa tugas yang saling terkait: menstabilkan lingkungan keamanan, membangun kembali perumahan dan infrastruktur yang rusak akibat konflik, merestrukturisasi bank dan utang publik, memulihkan layanan listrik dan air yang andal, serta memperkuat institusi yang mampu mengelola investasi melintasi perbedaan sektarian dan regional. Tekanan iklim dan konsentrasi perkotaan yang tinggi menambah beban. Bobot Lebanon di Levant pada masa depan akan sangat bergantung pada apakah aset komersial, manusia, dan geografisnya dapat kembali berfungsi melalui negara yang efektif, alih-alih sekadar mengompensasi kelemahannya.