Sering disebut sebagai "Galápagos di Samudra Hindia," Socotra membanggakan tingkat endemisme yang tak tertandingi—terutama dalam kaitannya dengan kehidupan tanamannya. Sebagai monumen keterpencilan Socotra yang hebat, masa lalu geologis yang unik, dan iklim mikro yang bervariasi, 37% floranya yang mengejutkan dianggap unik untuk pulau tersebut. Dengan tanaman yang menunjukkan adaptasi luar biasa untuk bertahan hidup dalam kondisi pulau yang tidak bersahabat, surga botani ini merupakan pertunjukan keajaiban evolusi.
Pohon Darah Naga (Dracaena cinnabari) mungkin merupakan warisan bunga Socotra yang paling ikonik. Hanya ada di Socotra dan dipuja karena khasiat terapeutiknya, spesies pohon yang menakjubkan ini memiliki tajuk khas yang berbentuk seperti payung resin merah. Selama ribuan tahun, darah naga—resinnya—telah digunakan dalam pengobatan tradisional, kosmetik, dan dupa sebagai pigmen. Bentuk pohon yang tidak biasa ini merupakan respons terhadap lingkungan yang kering; membantu pohon ini mengumpulkan kelembapan dari kabut dan kabut.
Tumbuhan lain yang menjadi lambang Socotra adalah subspesies yang unik di pulau itu, Bunga Mawar Gurun (Adenium obesum sokotranum). Dengan batangnya yang besar dan bunga berwarna merah muda yang cerah, semak sukulen ini—yang melambangkan keanggunan dan ketabahan menghadapi kesulitan—adalah Batang kecil Bunga Mawar Gurun berfungsi sebagai reservoir air, yang memungkinkannya bertahan hidup dari kekeringan yang berkepanjangan. Bagi penyerbuk, bunganya yang mekar di musim kemarau merupakan sumber nektar yang penting.
Meskipun tidak hanya tumbuh di Socotra, tanaman menakjubkan lain yang terlihat di pulau itu adalah Pohon Botol (Adansonia digitata). Pohon besar ini, dengan batangnya yang menonjol dan khas, merupakan bukti habitat khusus pulau itu. Batang Pohon Botol berfungsi sebagai organ penyimpanan air, yang membantunya tumbuh subur di padang pasir. Bagi manusia dan hewan, buah pohon tersebut—yang dikenal sebagai roti monyet—merupakan sumber makanan yang sehat.
Berbagai macam tanaman aromatik, termasuk kemenyan dan mur, juga tumbuh di Socotra. Selama berabad-abad, orang-orang telah mengumpulkan pohon-pohon bergetah ini untuk diambil getahnya yang aromatik, yang digunakan dalam pengobatan tradisional, parfum, dan dupa. Dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia, getah pohon kemenyan dan mur di pulau ini banyak dicari karena kualitas dan aromanya.
Selain spesies-spesies yang terkenal ini, vegetasi Socotra kaya akan tanaman-tanaman menakjubkan lainnya dengan adaptasi individual dan nilai ekologis. Dari buah pohon mentimun (Dendrosicyos socotranus) yang dapat dimakan, hingga akar udara unik dari pohon ara Socotra (Ficus vasta), keanekaragaman botani Socotra merupakan bukti masa lalu evolusi dan ketahanan ekologi pulau tersebut.